Tanya kenapa…?

“Ayah, kenapa dia nangis?”

“Kok dia jatuh?”

“Kenapa baby-nya?”

“Kenapa …?”

Ini adalah bentuk pertanyaan Zafira yg saya pikir jg merupakan cara anak2 di manapun utk mengenal lingkungannya. Mereka menggunakan kata tanya “kenapa” utk mengetahui penjelasan di balik semua peristiwa. Kemudian saya jelasin begini-begitu. Naah, klo saya udah bosan, “Zafira mau dibacain buku atau gak?” Dan Zafira pun mengangguk. Artinya, Zafira akan berhenti bertanya dan ntah mendengarkan atau gak, yg penting bukunya selesei dibaca, dan lgsg bobo, hehehe..

– – –

Suatu hari ketika saya ngobrol ngalor ngidul dgn teman kerja yg kebetulan berasal dr Cina, dia bilang gini, “Saya mau berhenti aja les bahasa Belandanya, terus ambil ujian aja. Kami orang2 Cina plg jago utk urusan ujian2 spt ini. Mau TOEFL, IELTS, GRE, GMAT, etc, pasti kami bisa lulus.”

“Kenapa kau bilang gitu?” tanya saya ingin tau rahasia di balik kepercayaan dirinya. Btw, dia ini bisa bahasa Belanda krn mengulang program bachelor lg di TU Delft (TUD). Sblmnya dia udah punya bachelor dr Cina dan bekerja selama kurang lbh 4 thn di Cina sana.

“Iya, krn kami orang Cina udah terlatih utk bisa menjawab soal2 spt itu. Tinggal dikasi buku, terus latihan yg banyak. Dlm wkt seminggu, dua minggu, kami udah bisa menjawab semua soal2 di buku itu”, jawabnya pjg lebar.

“Oo… “, saya sambil manggut2.

“Tp, ketika praktik lgsg berbicara bahasa Inggris misalnya, kami kelabakan. Jg utk mengetahui kenapa sesuatu itu mesti dikerjakan spt itu, gak spt ini, kami jg gak tau,” sambungnya.

“Hmm.. terdengar familiar,” sahut saya.

“Di Indonesia pun banyak yg spt itu. Kita tinggal menyeleseikan 100 soal setiap hari. Gak perlu ngerti. Yg penting soalnya terjawab dgn benar. Ada rumus canggih, short-cut sana-sini. Pas ujian, lgsg dpt nilai yg tinggi,” sambung saya.

“Iya, itu masalah besar,” katanya.

“Gak cuma di Indonesia aja, di bbrp negara tetangga yg pernah saya singgahi jg spt itu. Ada teman saya yg ambil master di universitas terkemuka di suatu negara yg bilang klo pertanyaan di ujiannya spt, apakah yg dimaksud dgn anu, berapakah hasil integrasi lipat tiga dr anu dikali itu kemudian ditambah ini, etc,” saya menambahkan.

“Di negara itu jg udah sekolahnya banyak pr, terus anak2nya ikut les spy bisa mengejar ketertinggalan di sekolah. Eh, malah les nya pun ngasi pr yg gak kalah banyaknya,” sambung saya lg.

“Iya benar. Di Cina jg spt itu,” katanya.

Kesimpulan sementara kami adalah permasalahan pendidikan spt ini terjadi di negara2 Asia. Terus, saya tanya dia,

“Wak (namanya disamarkan), pas kau dulu sekolah lg di TUD, kau gak academic shock?”

“Itu saat2 yg plg mengerikan dlm hidupku, hehehe… makanya aku beli buku Organic Chemistry ini seharga 60 euro. Buku pertama yg kubeli di sini”, jawabnya.

“Aku datang ke Prof mata kuliah Organic Chemistry setelah les bahasa Belanda 3 bulan. Utk bilangin klo aku gak perlu ikut kuliah dia lg krn udah dpt dulu di Cina. Si Prof mengangguk, terus nge-print selembar kertas soal sambil bilang gini, “Ini soal ujian anak2 tahun kedua di sini. Dikerjakan dlm waktu 2 jam. Klo bisa, ya saudara boleh gak ambil mata kuliah saya”.

“Dan kau tau spt apa soalnya?” tanyanya kepada saya.

“Spt apa?”, jawabku gak mau ambil pusing.

“Soalnya cuma 3 atau 4, tp bukan multiple choice dan jg bukan tipe essay. Dan bukan hanya open book, tp open question! Jawabannya bisa banyak, tp yg terpenting adalah argumentasinya. Reasoningnya. Udah gitu, bahasa Belanda lg. Sementara aku baru datang dr Cina di mana cuma ada satu jawaban dr setiap soal eksakta yg diberikan,” katanya.

“Terus si Prof bilang gini, ya dgn sangat menyesal saudara mesti ikut kuliah saya”, katanya lg. “Dan mata kuliah ini adalah mata kuliah yg terakhir yg aku lulus,” katanya.

“Wah, sama ya dgn programku dulu di TU/e,” kata saya.

“Awal2nya aku jg dulu bingung. Ini permasalahan2 kok gak mengerucut ke satu solusi. Dan si prof2 itu mmg menekankan pada pengertian kita ke suatu masalah. Kenapa masalah itu muncul, apa kira2 penyebabnya, dr situ apa kira2 solusinya, dan klo solusinya gagal, apa rencana selanjutnya. Dan kita pun tergerak utk terus bertanya kenapa. Benar2 beda dgn apa yg kualami di kampung dulu,” sahutku.

“Iya, dgn latihan spt ini, anak2 sini lbh kreatif dan inovatif dlm melihat dan menyeleseikan masalah. Meskipun secara teknikal dlm menyeleseikan masalah itu mereka belom tentu bisa (maksudnya menyeleseikan integral2 td itu). Tp setidaknya mereka tau apa yg kira2 mesti dilakukan,” sambung teman saya ini.

– – –

Bekas bos R&D saya dulu pernah bilang gini, “You have to ask 5 times why!”

“Kau harus bertanya kenapa sampai 5 kali!”

“Kenapa performancenya turun? Krn cooling loadnya turun”

“Knp cooling loadnya turun? Krn heat transfernya rendah”

“Knp heat transfernya rendah? Krn ada fouling di cooling water line”

“Knp ada fouling di situ? Krn flowrate nya rendah sementara si cooling water ini once-through dr air laut jd punya kecenderungan fouling yg tinggi”

“Knp flowrate nya rendah? Krn kita mengontrol heat loadnya dgn mengendalikan laju alir, bukan mengendalikan beda temperature”

“Klo gitu, segera ubah konfigurasi pipingnya dan pindahkan control valvenya!”

– – –

Nah, kembali ke pertanyaan2 Zafira td. Kadang krn capek atau apa, saya gak menjawab atau gak berusaha menjawab semua pertanyaan kenapa nya, dan terus membaca. Akibatnya dia cm akan mendengar apa yg saya bacakan tanpa ia mengerti apa yg terjadi di cerita tsb. Kondisi ini klo dibiarkan terus menerus akan mematikan semangat ingin taunya, yg ujung2nya mungkin dia cuma tau apa yg diberikan kpdnya tanpa mencari tau lbh dlm lg.

Ke depannya, sadar atau tidak sadar, kita akan menghasilkan anak2 yg cm tau bagaimana mengerjakan sesuatu tanpa mengerti kenapa mereka mengerjakan sesuatu itu dan kenapa mereka harus mengerjakannya spt itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: