Orang kampung vs orang bule

Percakapan ini terjadi antara orang kampung (imigran) dgn orang bule (bos) pada Jumat sore, di tengah2 persiapan setiap orang utk menikmati akhir minggunya. Biasanya saat spt ini mmg ada sedikit chit-chat dgn bos. Maklum, minta tanda tangan hour registration. Tp percakapan kali ini sedikit berbeda krn menyinggung masalah sensitif. Menarik utk dituliskan krn telah mengingatkan orang kampung akan dirinya. Berikut ceritanya:

Tuing!!! Orang kampung melihat email baru dr orang bule, masuk ke inboxnya. Tengok sekilas, ”Lho, kok bisa pulak ada meeting hari Jumat dr jam 11.00 sampe jam 14.00?” pikirnya. Setelah menyiapkan lembar hour registration, orang kampung pun mendekati orang bule.

Orang kampung, ”Pak, tanda tangannya dong”

Orang bule, ”OK-ok”.

”Oh ya Pak, td awak tengok klo group meeting kita bulan September nanti pas hari Jumat jam 11.00 – 14.00. Klo awak keluar dr meeting jam 13.30, boleh gak?”, tanya orang kampung.

”Mmg ada apa di jam segitu?”, orang bule penasaran.

“Ada sholat Jumat, Pak”, jawab orang kampung. ”Antara jam 13.30 – 14.30, kurang lebih”, sambungnya.

Orang bule mengerenyitkan dahi, ”Sholat Jumat? Apaan tuh? Mmg mesti pas di hari itu dan jam segitu?”, tanyanya lagi. Orang kampung yg skrg giliran mengerenyitkan dahi. ”Iya, awak ada sholat yg harus dilakukan pada hari Jumat dan sekitar jam segituan utk periode skrg ini (awal Agustus)”.

”Knp gak dibikin di hari Minggu aja? Hari Jumat di kalender agamamu sama ya dgn hari Minggu di kalender kami?”, tanyanya lg.

”Well, di kampung awak hari Jumat ya hari kerja. Tp bagi yg beragama Islam diwajibkan utk sholat Jumat. Stlh itu, kami kembali bekerja. Klo hari Minggu ya sama, hari libur. Knp dilakukan di hari Jumat, ya krn mmg ditulis di Al Qur’an spt itu Pak”, jelas si orang kampung.

”Hmm, ya gpp klo mau keluar di jam segitu (sambil manggut2). Oya klo gak salah kalian jg ada puasa ya, gak makan, gak minum sampe gelap nanti?”, orang bule makin penasaran.

”Iya, mulai Senin kemarin. Sampe sebulan. Setelah itu lebaran”, kata orang kampung lg.

”Gak gemetaran klo gak makan-minum selama itu?”, tanya orang bule lagi. ”Nggak, Pak”, jawab orang kampung singkat.

”Kalian puasa dr jam 6 pagi sampe nanti gelap sekitar jam 21.20 kan?”, tanyanya lg.

Orang kampung, ”Tergantung daerahnya, klo di kampung awak sih, puasa sampe jam 6an sore. Krn di sana siang itu 12 jam dan malam jg 12 jam. Klo di sini, puasanya mulai jam 03.30 sampe 21.20 nanti”.

Orang bule kebingungan, ”Bukannya jam 03.30 pagi msh gelap?”

”Iya, tp kami ada sholat Shubuh yg dimulai jam segitu. Dan waktu itu sbg pertanda klo puasa dimulai. Terangnya mmg mulai jam 5 kurang lebih apa ya. Waktu utk sholat Shubuhnya ya mulai dr jam 03.30 sampe mulai agak terang”, papar orang kampung.

“Hmm… apa kamu gak berniat utk pindah agama, hehehe?”, tanya orang bule lg.

“Nggak Pak, kan ini masalah keyakinan, hehehe (jg)”.

“Iya memang sih. Tp saya gak nyangka klo mmg situasinya spt itu. Baru kali ini saya dengar yg spt ini,” jelas si orang bule. “Jadi kamu gak sarapan dong, jam segitu udah mulai puasa?”

“Oo, awak bangun sekitar sejam atau setengah jam sebelumnya. Di waktu itu lah awak makan”, jawab orang kampung.

“Busyet, msh punya waktu tidur?”, tanyanya. Orang kampung garuk2 kepala, “Ya masih lah Pak”. Pertanyaannya ini dimaklumi krn satu anak buahnya baru aja masuk rumah sakit krn kurang tidur dan stress.

Percakapan ini terus berlanjut ke isu2 spt generasi orang2 bule skrg ini yg gak percaya lg sama agama, terorisme, tindakan kekerasan atas nama agama, tindakan abusive thd anak2 kecil oleh pendeta2 yg shrsnya sbg penjaga agama dan moral, sampe ke cerita mengenai istrinya yg suster. “Di sini”, kata orang bule. “Klo orang sembuh dr sakit, mereka berterima kasih sama Tuhan. Tp klo orang itu meninggal, petugas2 medis inilah yg disalahkan dan dicaci maki,” katanya. Orang kampung terhenyak, “Kok bisa sampe segitunya? Kan gak baik itu namanya Pak?”

“Iya, mmg gak baik. Tp begitulah kenyataannya,” katanya. “Saya termasuk gak percaya sama yg beginian. Klo lah Dia mmg ada, knp Dia membiarkan semua penderitaan ini ada. Iya kan?”, tanyanya retoris. “Kuharap Dia ada krn akan lbh baik, tp saya ragu klo Dia ada”, katanya.

“Itu pertanyaan setiap orang Pak”, kata orang kampung yg pernah bbrp kali mendapat pertanyaan retoris yg sama dr orang2 bule lainnya. “Ya, mungkin saja,” kata orang bule.

Berondongan pertanyaan ttg agama dan hidup td membuat orang kampung teringat dulu pas belajar ngaji. “Apakah kamu berpikir klo hidup ini hanyalah kesenangan semata? [1] Do you think that life is about having fun? Of course that no body wants to suffer in this life. But those sufferings exist as a reminder for the rest of us that life is a test, is an exam to see who we are. Tsunami, earthquakes, wars, energy crisis, global warming, hunger, even every death we see in our life are all reminders that life is a serious matter. How can you think that life is about having fun if everything in this life can disappear in a split second? What counts is the things that we do in our life. Our efforts to be a better person. Not about achievements and also not about having fun. It is about being held responsible for what we do in every single second of our life! Dan apakah mereka berpikir bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja tanpa diuji? [2]

References:

  1. QS Al Hadiid, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yg melalaikan, perhiasan dan bermegah2 antara kamu serta berbangga-banggaan ttg banyaknya harta dan anak, seperti hujan yg tanam2annya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu mjd kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian mjd hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yg keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tdk lain hanyalah kesenangan yg menipu (20)
  2. QS Al ‘Ankabuut, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang2 yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang2 yg dusta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: