Antara duit, BBM, batubara, dan gas alam (3)

Nah, skrg mari kita analisis asumsi dan hasil hitung2annya…
Asumsi 75% pengolahan minyak mentah menjadi BBM kupikir udah cukup bagus dengan teknologinya yg udah sgt “dewasa” (mature) saat ini. Sementara pengolahan batubara dan gas alam menjadi BBM utk saat ini mmg memiliki asumsi sekitar 50%. Pabrik ORYX GTL sendiri punya efisiensi penggolahan 51%. Mungkin bbrp tahun ke depan, teknologi baru akan dikembangkan dan membuat efisiensinya semakin tinggi. Akibatnya, jumlah sumber daya yg diperlukan akan semakin sedikit dan ketersediaan BBM berbahan baku fosil akan semakin lama.

Teknologi CTL dan GTL pada dasarnya adalah utk memproduksi diesel yg berupa rantai panjang alkana. Jadi, utk menghasilkan gasoline (bensin) diperlukan bbrp unit tambahan spt cracking dan reforming. Pastinya diperlukan biaya tambahan utk itu. Tp investasi utk ORYX GTL yg kita jadikan referensi telah memasukkan biaya tsb krn pabrik itu menghasilkan diesel dan gasoline sekaligus.

Hal yg mungkin menjadi keraguan adalah kelayakan mengenai implementasi CTL dan GTL di Indonesia. Aspek2 penting spt modifikasi teknologi utk gas alam dan batubara Indonesia, kesinambungan bahan baku, ketersediaan infrastruktur, dan pengelola di lapangannya patut mendapat perhatian. Apalagi klo di Indonesia tanah air beta hal2 yg logis bisa diputarbalikkan seenak perut.

Data ESDM mengatakan klo jumlah cadangan gas alam dan batu bara besar, apakah semuanya mmg bisa lgsg diambil dan digunakan begitu saja? Ataukah diperlukan lg eksplorasi, eksploitasi, dan produksinya? Pertanyaan yg gak kalah pentingnya adalah di manakah pabrik CTL dan GTL ini akan didirikan? Cadangan batubara hanya ada di Sumatera dan Kalimantan sementara cadangan gas alam cukup tersebar di Indonesia. Cukupkah satu GTL dan satu CTL di Indonesia, atau diperlukan bbrp pabrik2 CTL dan GTL yg terdistribusi, menurut keberadaan bahan baku atau kebutuhan BBM, agar kelancaran produksi dan distribusi BBM terjaga?

Data yg paling kabur adalah data impor BBM. Data prediksi utk tahun 2008 cukup bisa dibilang gak punya dasar yg kuat krn mengandalkan asumsi kenaikan linear 10%. Aku mmg gak punya pengalaman riil dlm penghitungan investasi pabrik industri, tapi kurasa, hasil itung2an investasi ini sgt kecil sekali (klo dibandingkan dgn RAPBN). Meskipun sebenernya uang bbrp triliun itu sangat banyak.

Pilihan utk menggunakan teknologi ini kedengerannya spt gali lubang tutup lubang klo dilihat dr kacamata sustainable energy. Teknologi ini cm salah satu pilihan utk diversifikasi bahan baku dlm menghasilkan BBM dengan cepat saat ini. Apalagi ditunjang dgn keberadaan teknologinya yg sudah ada di pasar dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: