Antara duit, BBM, batubara, dan gas alam (1)

Malam ini aku gak bisa tidur. Sambil menunggu ngantuk, iseng2 kuliat file “Blueprint pengolahan energi nasional 2005-2025” keluaran departemen ESDM tahun 2005 yg kudonlot bbrp hari lalu dr milis migas. Di dokumen itu kudapati berbagai kendala, peluang, dan program2 pemerintah dlm usahanya utk menjamin ketersediaan energi nasional. Banyak hal2 yg gak terlalu menarik bagiku krn bahasanya yg terlalu politis. Bbrp halaman depan sengaja kulangkahi krn membosankan. Halaman demi halaman terus kubalik sampai kemudian mataku terbentur pada angka2 di seputar cadangan gas alam dan batubara berikut peta keberadaan sumber2 energi tsb di seluruh Indonesia. Hmm… besar jg ya cadangan gas alam dan batubara kita. Kubalik lg ke halaman yg memuat data ttg produksi BBM dan impor BBM. Di data tahun 2004, sekitar 44% BBM yg dijual di Indonesia berupa BBM impor ataupun BBM yg berasal dr minyak bumi yg diimpor. Wah, hampir setengah dr konsumsi nasional, pikirku. Klo penjualan BBM impor ini mesti menggunakan harga dalam negeri, terasa berat sekali beban subsidi pemerintah.

Sampai ke 2009 aku blom melihat adanya peningkatan produksi minyak bumi sementara konsumsi BBM dipastikan meningkat. Akibatnya, beban subsidi pemerintah terhadap BBM pun semakin tinggi. Ujung2nya, subsidi ini bersama2 dgn pembayaran utang2 negara mengendalikan penggunaan APBN. Ketergantungan negeri ini akan minyak bumi secara langsung maupun tidak langsung membuat pos2 anggaran lainnya terpaksa diperketat. Meskipun aku gak punya data ttg ini, tp pemikiran awamku sedikit mengarah ke sana.

Melihat besarnya cadangan gas alam dan batubara, aku terpikir utk mengecek teknologi coal-to-liquid (CTL) dan gas-to-liquid (GTL) utk memproduksi BBM dr gas dan batubara. Keterlibatanku di satu proyek kecil2an di Shell bbrp bulan lalu mengenai teknologi biomass-to-liquid (BTL) membuatku mengenal sedikit ttg CTL dan GTL ini. Sasol di Afrika Selatan memproduksi BBM dgn mengolah batubara yg mereka miliki dgn teknologi CTL yg mereka kembangkan sendiri. Qatar bersama2 dgn Sasol telah membangun pabrik GTL, ORYX GTL, dgn kapasitas 34000 bbl/day. Sementara Shell udah berhasil membangun GTL di Malaysia dan skrg sedang membangun Pearl GTL berkapasitas 140000 bbl/day utk produksi diesel. Terus, aku merenung2 sejenak sambil menggendong Zafira…

“Hmm… bagaimana klo teknologi CTL dan GTL ini dipakai utk mengolah gas alam dan batubara di Indonesia utk mengurangi beban impor BBM atau mungkin menghilangkan impor sama sekali? Berapa ya pemerintah harus bayar utk impor BBM? Untuk jumlah konsumsi yg sama, berapa investasi yg diperlukan? Klo melihat ketersediaan cadangan gas alam dan batubara di Indonesia, apakah ekonomis jika kita bangun pabrik2 CTL dan GTL di bbrp daerah, shg setiap daerah dpt terpenuhi kebutuhan BBMnya?”

Berbekal “motto” Shell yg berbunyi “this is not rocket science”, aku mulai itung2 kasar berapa kira2 yg diperlukan utk menghilangkan impor BBM dgn data tahun 2004 td.
(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: